"Baginda Nabi, suamiku, kemana kau hendak pergi? Apakah kau hendak meninggalkan kami di tempat yang tidak ada sesuatupun disini?"
Ibrahim as. diam membisu. Dengan ditahan sakit perih di dada lalu melepas pegangan sang istri sambil berlalu.
"Ayahanda Ismail, apakah kau hendak meninggalkan kami di tempat yang tidak ada sesuatupun disini?"
Panggilan kedua sang istri tetap tidak menyurutkan langkah Ibrahim as. Padahal maksud Hajar memanggil dengan sebutan "Ayahanda Ismail" adalah untuk mengingatkan bahwa yang akan ditinggalkan Ibrahim as. adalah anak semata wayangnya, Ismail, yang masih merah dan lemah. Yang dulu sangat dinantikan kelahirannya. Ibrahim tetap tak bergeming.Ketiga kalinya ia memanggil dengan agak keras,
"Suamiku Ibrahim! Apakah kau tega meninggalkan kami di tempat yang tak ada sesuatupun disini?"
Kesabaran mungkin sudah sampai pada puncaknya hingga ia memanggil sang suami dengan menyebut namanya."Allah amaruka bihadza?" Tanya ia kepada Ibrahim as. Sementara suaminya hanya menunduk diam.
Perlahan, Siti Hajar langsung menghibur suaminya dengan tutur kata yang lembut dan meyakinkan.
"Kalau begitu baginda, Allah tidak akan sia - siakan kami. Engkau berangkatlah jangan kau pikirkan kami."
Apabila disebut perintah Allah, ia terdiam. Kelu lidahnya untuk terus merayu. Terbayang olehnya penderitaan yang akan dihadapinya sendirian nanti.
- Enok Hendra; "Siti Hajar" -