Sebenarnya, perlukah mempermasalahkan masa lalu?
masa laluku sendiri,, dan masa lalunya...
kita sangat akrab dengan kalimat : "experience is the best teacher"
experience = pengalaman = masa lalu
jadi?
Memang masa lalu, pengalaman, adalah guru terbaik untuk diri. Karena akan sangat berbeda ketika kita mengalaminya sendiri, tau akibatnya dan menyesalinya dibandingkan dengan hanya tau teorinya, kalimat2 bijak yg bisa kita temukan di banyak tempat. Akan SANGAT BERBEDA.
Kadang saat kita merenung, introspeksi diri, yang harusnya bagus, bisa menjadi hal yg salah ketika isi dari renungan adalah penyesalan2 yang berlebihan terhadap masa lalunya. kenapa dulu aku begini? kenapa tidak dari dulu aku begini? kalau dulu aku sudah begini, pasti sekarang bisa seperti ini.. dan seterusnya. Ada rasa TIDAK TERIMA atas takdir yang telah terjadi. Oh iya, takdir, nasib, apalah itu namanya, selain hasil dari usaha kita sendiri, ada peran besar dariNya.
Anggap saja mantan pecandu narkoba. Selain karena kesalahannya sendiri yg telah menjerumuskan dirinya ke dunia itu, ada peran serta Tuhan yang menempatkannya disana. Mungkin, dengan begitu dia benar2 tahu rasanya menjadi pecandu sehingga setelah sadar, dia benar2 tidak ingin dan tidak akan lagi dekat2 dengan hal itu, karena memang sudah merasakan, bukan hanya sekedar teori dan dengar2 dari orang tentang penderitaan seorang pecandu. Selain itu, dia, karena punya pengalaman, bisa menjadi narasumber, pembicara, org yang bisa diandalkan bila kita ingin meminta nasehat, bagaimana menghindari atau ingin terlepas dr narkoba. Lalu, seandainya kita adalah mantan pecandu narkoba, mana yang benar yang harus kita lakukan sekarang?
1. menangis meratapi, menyesali, kenapa dulu "pernah" masuk ke dunia itu, kenapa kita tidak terlahir di lingkungan islami, anak kiai, ustadz, kenapa ada "kepingan" dari hidup kita yang berada pada sisi "kelam" (walaupun saat ini sudah terlepas dari sana).Kenapa hidup kita tidak bisa secara utuh berada di sisi "putih", suci, selalu di jalanNa dari lahir hingga mati nanti. Apakah penyesalan ini akan merubah keadaan?
2. Oke, masalaluku suram. Lantas? asal sekarang berada di jalan yang benar, sudah bertaubat, melakukan banyak kebaikan, masih menjadi pengaruhkah masa lalu? bukankan Tuhan maha penerima taubat?
masa laluku sendiri,, dan masa lalunya...
kita sangat akrab dengan kalimat : "experience is the best teacher"
experience = pengalaman = masa lalu
jadi?
Memang masa lalu, pengalaman, adalah guru terbaik untuk diri. Karena akan sangat berbeda ketika kita mengalaminya sendiri, tau akibatnya dan menyesalinya dibandingkan dengan hanya tau teorinya, kalimat2 bijak yg bisa kita temukan di banyak tempat. Akan SANGAT BERBEDA.
Kadang saat kita merenung, introspeksi diri, yang harusnya bagus, bisa menjadi hal yg salah ketika isi dari renungan adalah penyesalan2 yang berlebihan terhadap masa lalunya. kenapa dulu aku begini? kenapa tidak dari dulu aku begini? kalau dulu aku sudah begini, pasti sekarang bisa seperti ini.. dan seterusnya. Ada rasa TIDAK TERIMA atas takdir yang telah terjadi. Oh iya, takdir, nasib, apalah itu namanya, selain hasil dari usaha kita sendiri, ada peran besar dariNya.
Anggap saja mantan pecandu narkoba. Selain karena kesalahannya sendiri yg telah menjerumuskan dirinya ke dunia itu, ada peran serta Tuhan yang menempatkannya disana. Mungkin, dengan begitu dia benar2 tahu rasanya menjadi pecandu sehingga setelah sadar, dia benar2 tidak ingin dan tidak akan lagi dekat2 dengan hal itu, karena memang sudah merasakan, bukan hanya sekedar teori dan dengar2 dari orang tentang penderitaan seorang pecandu. Selain itu, dia, karena punya pengalaman, bisa menjadi narasumber, pembicara, org yang bisa diandalkan bila kita ingin meminta nasehat, bagaimana menghindari atau ingin terlepas dr narkoba. Lalu, seandainya kita adalah mantan pecandu narkoba, mana yang benar yang harus kita lakukan sekarang?
1. menangis meratapi, menyesali, kenapa dulu "pernah" masuk ke dunia itu, kenapa kita tidak terlahir di lingkungan islami, anak kiai, ustadz, kenapa ada "kepingan" dari hidup kita yang berada pada sisi "kelam" (walaupun saat ini sudah terlepas dari sana).Kenapa hidup kita tidak bisa secara utuh berada di sisi "putih", suci, selalu di jalanNa dari lahir hingga mati nanti. Apakah penyesalan ini akan merubah keadaan?
2. Oke, masalaluku suram. Lantas? asal sekarang berada di jalan yang benar, sudah bertaubat, melakukan banyak kebaikan, masih menjadi pengaruhkah masa lalu? bukankan Tuhan maha penerima taubat?
seorang teman pernah berkata : lebih baik mantan preman daripada mantan ustadz.
Imam Ghazali berkata pada murid2nya : yang paling jauh adalah MASA LALU. Kita tidak pernah bisa menjangkaunya lagi walau sedetik. Karenanya gunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya.
Jadi?
Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, untuk perbaikan diri kita saat ini, dan saat mendatang. Penyesalan perlu, agar tidak menjerumuskan diri pada kesalahan yang sama. Bukan meratapi nasib, dengan hanya meratap, tanpa perubahan nyata, toh masa lalu benar2 tak bisa dirubah.
Jadi,,
jawaban dari pertanyaan di atas sepertinya adalah "TIDAK"
Imam Ghazali berkata pada murid2nya : yang paling jauh adalah MASA LALU. Kita tidak pernah bisa menjangkaunya lagi walau sedetik. Karenanya gunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya.
Jadi?
Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, untuk perbaikan diri kita saat ini, dan saat mendatang. Penyesalan perlu, agar tidak menjerumuskan diri pada kesalahan yang sama. Bukan meratapi nasib, dengan hanya meratap, tanpa perubahan nyata, toh masa lalu benar2 tak bisa dirubah.
Jadi,,
jawaban dari pertanyaan di atas sepertinya adalah "TIDAK"
- renungan -
No comments:
Post a Comment